Kalau ngomongin soal hak cipta, lo pasti tahu kalau Disney itu ibarat benteng pertahanan paling keras di dunia hiburan. Karakter mereka bukan sekadar aset bisnis, tapi simbol budaya yang dijaga dan dikontrol dengan disiplin yang super ekstrem
Makanya, industri hiburan sempet gempar ketika menjelang akhir 2025, sesuatu yang nggak terbayangkan terjadi: Disney mengumumkan kerja sama strategis dengan OpenAI. Ya, OpenAI, perusahaan yang justru lagi ada di pusat kontroversi soal AI generatif. Disney bahkan berani menanamkan investasi hingga 1 miliar dolar AS dan ngebuka akses terbatas buat ratusan karakter ikoniknya untuk bereksperimen di tools video AI milik OpenAI, yaitu Sora.
Pertanyaannya: Kenapa Disney yang biasanya protektif banget malah ngebuka pintu buat AI? Apa mereka udah nyerah, atau ini justru cara halus buat ngambil kendali sebelum semuanya terlambat?
Di artikel ini kita bahas:
• Alasan logis di balik “jalur khusus” Disney x OpenAI.
• Kenapa Disney milih terjun langsung daripada nolak kayak studio lain.
• Risiko besar yang menanti di depan mata.
• Pelajaran penting buat kita sebagai developer dan tech enthusiast.
Kenalan Dulu Sama “Jalur Khusus” Disney
Langkah Disney ini ternyata bukan keputusan nekat yang spontan. Investasi 1 miliar dolar AS ke OpenAI ini dibarengi sama kesepakatan lisensi yang strict banget, sangat terbatas, dan terkurasi.
Lisensi ini nggak bersifat bebas, nggak permanen, dan kabarnya cuma berlaku sekitar 3 tahun aja. Disney juga nggak buka gudang kreatifnya lebar-lebar. Yang diizinkan cuma penggunaan karakter fiktif ikonik kayak Mickey Mouse, dan itu pun cuma dalam konteks eksperimen terbatas di Sora.
Hal-hal yang paling sensitif? Sangat dilarang. Peniruan wajah, suara, atau kemiripan dengan aktor manusia nyata sama sekali nggak boleh disentuh. Intinya, Disney ngasih ruang buat eksplorasi, tapi tetap narik garis tebal di area yang selama ini jadi sumber konflik utama antara Hollywood dan AI.
Kenapa Gak Nolak Aja Kayak Studio Lain?
Dalam beberapa bulan sebelumnya, OpenAI sebenarnya udah nyoba ngobrol sama studio raksasa lain kayak Universal Pictures dan Warner Bros. Tapi, sebagian besar dari mereka milih main aman, bersikap defensif, atau nolak mentah-mentah karena takut kehilangan kendali atas IP (Intellectual Property) mereka dan nggak mau cari gara-gara sama serikat pekerja.
Uniknya, Disney sendiri sebenarnya ada di barisan paling depan yang vokal menentang penyalahgunaan AI. Mereka pernah neken platform kayak Character.AI, protes ke Google, bahkan sempat bareng Universal menggugat Midjourney. Terus, kenapa sekarang malah investasi?
Bagi Disney, dan terutama CEO mereka Bob Iger, AI itu bukan gelombang yang bisa dihentikan cuma dengan penolakan. Teknologi baru selalu bawa risiko, tapi juga bawa peluang. Daripada cuma berdiri di luar, nonton, dan baru bereaksi pas masalah udah kejadian, Disney milih buat terjun dan terlibat langsung.
Masuk Lebih Awal = Ambil Kendali Mainnya
Dengan masuk lebih awal, Disney nggak sedang menyerahkan kekuasaannya. Justru mereka mau ikut ngebentuk standar praktik dan batas penggunaan AI sejak fase awal. Eksperimen ini dikontrol ketat dan nggak menyentuh produksi film atau serial utama mereka sama sekali.
Kalau lo perhatiin, posisi OpenAI secara bisnis juga belum sepenuhnya stabil dan masih butuh legitimasi serta dukungan strategis. Kondisi ini bikin hubungan kerja sama jadi nggak sepenuhnya seimbang, yang artinya: Disney punya ruang tawar yang lebih besar buat nentuin aturan main. Batas lisensi, pagar pengaman, dan cara pengawasannya bisa dinegosiasikan dari posisi Disney yang kuat.
Disney seolah bilang: “Kita ikutan main, tapi pakai aturan dan kecepatan kita sendiri.”. Kalau eksperimen ini jalan lancar, Disney bakal punya framework yang matang buat kolaborasi AI di masa depan. Kalau gagal? Angka 1 miliar dolar AS buat ukuran bisnis Disney masih kerugian yang terukur dan gampang di-cut kapan aja.
Tapi Risikonya Tetap Gede, Cuy!
Walau mindset-nya kelihatan rapi, langkah ini tetap bawa risiko besar. Selama puluhan tahun, Disney hidup dari citra “hiburan keluarga”. Di dunia AI generatif, satu konten aja yang salah konteks bisa langsung memicu kontroversi luar biasa dan ngerusak reputasi brand mereka yang udah dibangun susah payah.
Belum lagi risiko penolakan dari komunitas kreator. Walau wajah aktor asli udah dilarang di agreement, ketegangan dengan serikat pekerja, aktor, dan penulis di Hollywood belum sepenuhnya reda. Kolaborasi sama AI masih sering dilihat sebagai sinyal buruk buat industri kreatif.
3 Pelajaran “Superpower” Buat Lo Para Developer
Sebagai developer yang juga tiap hari deal sama tech stack baru atau tools AI buat ningkatin produktivitas, ada tiga insight mahal dari case Disney ini:
1. Inovasi itu Bukan Cuma Soal Buka Kemungkinan, Tapi Nentuin Batasan. Disney ngajarin kita kalau daya tahan jangka panjang (kayak ngejaga kode atau arsitektur sistem lo) justru lahir dari keberanian menetapkan hal apa yang “nggak boleh dilanggar”.
2. Ikut Ngebentuk Arah Perubahan. Keunggulan nggak melulu milik mereka yang paling cepat, tapi mereka yang ikut andil bikin aturan mainnya. Masuk lebih awal (kayak lo mulai adopsi AI di terminal atau belajar Next.js/NestJS lebih deep) ngasih lo ruang buat nguasain standarnya sebelum teknologi itu jadi kaku.
3. Risiko Nggak Bisa Dihindari, Tapi Bisa Dipilih. Disney ngambil risiko yang terukur, dibatasi skalanya, dan diawasi ketat. Kendali yang sejati datang dari perhitungan yang matang, bukan cuma modal nekat.
Arus perubahan teknologi dan AI bakal terus datang. Pilihannya sekarang cuma dua: apakah lo cuma mau bereaksi kalau udah kejadian, atau milih masuk dengan sadar dan terukur kayak yang dilakuin Disney?.
Karena pada akhirnya, kendali itu nggak pernah benar-benar hilang—dia cuma pindah tangan ke orang lain pas kita berhenti ikut nentuin arahnya.
