Skip to content
Kembali ke Feed
Internet Rakyat Rp100 Ribu: Disrupsi Serius atau Janji Terlalu Manis?

Internet Rakyat Rp100 Ribu: Disrupsi Serius atau Janji Terlalu Manis?

3 Juli 20267 menit baca

Internet rumah di Indonesia punya reputasi yang sulit dibela: mahal, tidak selalu kencang, dan jangkauannya belum merata. Jadi ketika Internet Rakyat muncul dengan klaim Rp100.000 per bulan, up to 100 Mbps, unlimited, tanpa kuota dan tanpa FUP, reaksi publik wajar saja terbelah.

Di satu sisi, ini terdengar seperti angin segar. Di sisi lain, banyak yang langsung mengernyit: ini beneran bisa jalan, atau cuma manis di awal?

CEO Internet Rakyat, Shannedy Ong, membawa narasi yang cukup ambisius. Dengan latar belakang sebagai mantan petinggi Qualcomm Indonesia dan Ericsson Indonesia, ia melihat masalah internet rumah di Indonesia bukan sekadar soal teknologi, tapi soal affordability. Harga internet masih terlalu tinggi untuk banyak rumah tangga, sementara kebutuhan digital sudah tidak bisa ditawar lagi.

Masalah Besarnya: Internet Rumah Indonesia Masih Tertinggal

Ada tiga angka yang cukup menampar.

Menurut paparan Shannedy, penetrasi fixed broadband atau internet rumah di Indonesia baru sekitar 20%. Angka ini disebut sebagai yang terendah di Asia Tenggara. Kecepatan median internet kita juga masih tertinggal, bahkan berada di posisi bawah dibanding negara ASEAN lain. Lebih menyakitkan lagi, harga per Mbps di Indonesia disebut termasuk yang paling mahal di kawasan.

Artinya, masalahnya bukan karena masyarakat tidak butuh internet rumah. Justru sebaliknya. Permintaannya besar, tetapi banyak orang tidak sanggup membayar paket yang tersedia saat ini.

Di sinilah Internet Rakyat mencoba masuk dengan proposisi yang sangat agresif:

  • Rp100.000 per bulan
  • Up to 100 Mbps
  • Unlimited
  • Tanpa kuota
  • Tanpa FUP

Kalau benar bisa konsisten, paket seperti ini bukan cuma murah. Ini bisa mengubah ekspektasi pasar.

Kenapa Tidak Pakai Kabel? Masuklah FWA 1,4 GHz

Salah satu alasan internet rumah sulit merata di Indonesia adalah biaya pembangunan infrastruktur kabel. Negara kita luas, berbentuk kepulauan, dan tidak semua wilayah ekonomis untuk ditarik fiber sampai ke rumah.

Internet Rakyat mengambil pendekatan berbeda lewat Fixed Wireless Access atau FWA di frekuensi 1,4 GHz. Secara sederhana, koneksi terakhir ke pelanggan tidak bergantung pada kabel fiber langsung ke rumah, melainkan lewat jaringan wireless dari site atau BTS.

Ini menarik karena bisa mempercepat deployment dibanding model fiber-to-the-home tradisional. Namun bukan berarti semuanya semudah menyalakan pemancar lalu pelanggan langsung online.

Shannedy menekankan bahwa tantangan terbesarnya justru ada di fiberisasi backhaul. Walaupun koneksi ke pelanggan bersifat wireless, site tetap membutuhkan koneksi fiber ke backbone. Di lapangan, proses ini sering berhadapan dengan izin, pekerjaan sipil, birokrasi, dan berbagai hambatan operasional.

Jadi, narasi “internet lewat udara” memang benar di sisi last mile, tapi jaringan di belakangnya tetap butuh fondasi fiber yang serius.

Angkanya Menggoda: 1,1 Juta Preregister dan 400 Ribu Pelanggan

Respons pasar terhadap Internet Rakyat ternyata sangat besar. Setelah brand diluncurkan, Internet Rakyat mengklaim mendapatkan lebih dari 1,1 juta preregistered customer dalam sekitar tiga bulan. Bahkan ada satu hari ketika jumlah pendaftar mencapai lebih dari 250 ribu.

Itu angka yang gila untuk kategori internet rumah.

Setelah soft launch pada Februari dan grand launch pada Mei, Internet Rakyat menyebut sudah mengoperasikan lebih dari 800 site yang mencakup lebih dari 80 kota dan kabupaten. Jumlah pelanggan yang dilayani diklaim sudah lebih dari 400 ribu rumah dalam waktu sekitar empat bulan.

Untuk konteks industri, Shannedy menyebut bahwa pemain fixed broadband biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai ratusan ribu pelanggan. Jadi dari sisi akuisisi, Internet Rakyat memang sedang bergerak sangat cepat.

Target berikutnya juga tidak kalah ambisius: meningkatkan kapasitas deployment hingga 1.000 site per bulan. Jika satu site bisa menjangkau sekitar 1.000 pelanggan, secara potensi mereka ingin mengejar customer reach hingga 1 juta pelanggan per bulan.

Ambisius? Sangat. Mustahil? Belum tentu. Tapi jelas eksekusinya tidak ringan.

Skeptis Itu Wajar: Terlalu Murah untuk Dipercaya?

Publik Indonesia sudah sering melihat ide besar yang terdengar revolusioner, tetapi eksekusinya tidak sesuai harapan. Karena itu, ketika ada layanan internet Rp100 ribu dengan janji up to 100 Mbps unlimited, pertanyaan seperti ini pasti muncul:

  • Apakah ini cuma harga promo di awal?
  • Apakah nanti pelan-pelan dinaikkan?
  • Apakah kualitasnya akan turun ketika pelanggan makin banyak?
  • Apakah benar tidak ada FUP?
  • Apakah ini model bisnis yang sehat?

Skeptisisme seperti ini bukan sinisme kosong. Ini reaksi rasional dari pasar yang sudah lama kecewa.

Internet Rakyat memang sudah menunjukkan traction awal yang besar. Tapi pekerjaan rumah berikutnya jauh lebih sulit: menjaga kualitas ketika skala makin besar. Mendapatkan pelanggan cepat itu impresif, tetapi mempertahankan kepercayaan pelanggan jauh lebih penting.

Soal Kecepatan: Up to 100 Mbps Bukan Berarti Selalu 100 Mbps

Salah satu keluhan yang muncul dari pengguna adalah kecepatan yang belum menyentuh 100 Mbps. Ada pengguna yang melaporkan koneksi di kisaran 50 hingga 60 Mbps, meski layanan dipasarkan sebagai up to 100 Mbps.

Di industri internet, istilah “up to” memang sudah lazim. Kecepatan aktual bisa dipengaruhi banyak faktor, terutama pada teknologi radio:

  • jumlah pengguna aktif bersamaan atau concurrency ratio
  • kondisi propagasi sinyal
  • jarak dan kualitas penerimaan
  • kapasitas radio di area tersebut
  • spesifikasi perangkat pelanggan
  • kepadatan trafik pada jam sibuk

Menurut Shannedy, laporan Ookla Speed Index untuk Q1 mencatat blended speed Internet Rakyat di sekitar 73 Mbps. Angka ini, jika konsisten, sebenarnya cukup kompetitif untuk paket Rp100 ribu. Namun ekspektasi publik tetap perlu dikelola dengan jelas.

Karena ketika orang mendengar “100 Mbps”, banyak yang membayangkan angka itu akan selalu muncul di speed test. Padahal secara teknis, produk broadband rumahan hampir selalu memakai pendekatan up to.

Di sinilah komunikasi menjadi krusial. Bukan hanya soal teknis, tapi soal membangun kepercayaan.

Disrupsi Harga Bisa Mengubah Pasar

Jika Internet Rakyat berhasil menjaga harga Rp100 ribu dan kualitas layanan tetap layak, dampaknya bisa besar. Bukan hanya bagi pelanggan, tetapi juga bagi industri.

Selama ini banyak rumah tangga berada di posisi sulit: butuh internet stabil, tapi harga paket fixed broadband terasa berat. Paket murah dengan performa memadai bisa membuka akses digital untuk lebih banyak keluarga, pelajar, UMKM, pekerja remote, dan komunitas di luar pusat kota besar.

Efek sekundernya juga menarik. Pemain lain bisa terdorong untuk meninjau ulang pricing, value paket, dan kualitas layanan mereka. Kompetisi seperti ini sehat, selama berlangsung dengan model bisnis yang berkelanjutan.

Namun disrupsi tidak cukup hanya dengan harga murah. Yang harus dibuktikan adalah konsistensi:

  • jaringan tetap stabil saat pelanggan bertambah
  • customer service responsif
  • instalasi tidak terlalu lama
  • kualitas antarwilayah tidak timpang terlalu jauh
  • tidak ada perubahan syarat yang mengecewakan pelanggan

Harga murah bisa membuat orang mencoba. Kualitas yang stabil membuat orang bertahan.

Jadi, Janji Terlalu Manis atau Peluang Besar?

Internet Rakyat berada di posisi yang menarik. Klaimnya berani, permintaan pasar sangat besar, dan pencapaian awalnya tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, tantangan deployment, fiberisasi, kualitas radio, dan ekspektasi pelanggan juga nyata.

Rp100 ribu untuk up to 100 Mbps unlimited tanpa FUP memang terdengar terlalu bagus untuk pasar Indonesia saat ini. Tapi justru karena pasar kita sudah terlalu lama terbiasa dengan internet mahal, pendekatan seperti ini layak diperhatikan dengan serius.

Untuk sekarang, sikap paling sehat adalah optimis tapi tetap kritis.

Internet Rakyat sudah membuktikan bahwa demand untuk internet rumah murah itu luar biasa besar. Tahap berikutnya adalah membuktikan bahwa layanan ini bukan hanya viral di awal, tetapi benar-benar bisa bertahan, meluas, dan menjaga kualitas dalam skala nasional.

Kalau eksekusinya rapi, ini bisa menjadi salah satu disrupsi paling penting di industri broadband Indonesia. Kalau tidak, publik akan mengingatnya sebagai satu lagi janji manis yang gagal memenuhi ekspektasi.

Dan untuk industri internet Indonesia, taruhannya memang sebesar itu.

Tonton Video Sumber

Anda akan diarahkan ke video asli di YouTube.